Cerita Anak Kost di Sudut Kota Negeri Sakura


Belanja pekanan telah menjadi rutinitas wajib bagi saya disini. Betapa tidak, jika saja saya lupa atau tak sempat berbelanja maka saya harus siap-siap untuk makan nasi tanpa lauk atau mungkin berpuasa Daud (puas Nabi Dauh, sehari puasa, sehari tidak, disunnahkan bagi yang pengen dan mampu). Kan bisa belanja dikantin kampus?, yah disinilah masalahnya, hidup dinegara non muslim tantangannya adalah siap-siap ngiler liat makanan dan minuman enak yang tak bisa tersentuh alias haram.

Banyak sekali hal yang mempengaruhi keharaman makanan dan minuman yang harus saya perhatikan. Yang pertama, haram zatnya, yang ini sangat mudah dikenali, misalnya babi (butaniku) dan alkohol (sake, kecap,dll), kita bisa secara kasat mata menghindarinya.

Yang kedua ini yang sulit, zatnya halal misalnya roti, es krim, mie, nasi goreng, telur, cokelat dsb, tetapi karena tambahan sesuatu yang haram maka menjadi haram. Kita harus pandai-pandai mengidentifikasi zat campuran dari makanan tersebut. Apakah makanan tersebut mengandung lemak babi sebagai zat tambahan (biasanya dipakai sebagai pengembang, minyak, mentega, dsb) atau tidak. Jika tidak mengandung lemak babi atau menggunakan minyak atau lemak dari tumbuhan, maka sangat bersyukur bisa dikonsumsi. Tapi jumlah makanan jenis ini sangat sedikit dan tatangannya adalah semua keterangan yang tercantum dalam bungkusan makanan tersebut dalam bahasa yang belum bisa saya cerna. Itupun syukur-syukur kalau dicantumkan, kalau tidak?.


Yang ketiga adalah yang masuk dalam wilayah abu-abu, misalnya tahu goreng, ikan goreng, telur goreng, dan jenis-jenis gorengan yang lain. Zat nya halal tapi masalahnya apakah anda yakin bahwa dalam menggoreng bahan-bahan makanan tersebut tidak disatukan dengan babi? apakah anda yakin minyak yang digunakan dari tumbuhan? apakah anda yakin wajan yang dipakai untuk menggoreng bukan bekas penggorengan babi?.

Yang keempat, yang juga masuk wilayah abu-abu adalah daging-dagingan yang secara zat halal, misalnya daging ayam, sapi, kerbau, kambing, dll. Memang secara zat halal, tapi apakah cara menyembelihnya sesuai dengan cara islam, apakah pada saat disembelih menyebut asma Allah. Yang ketiga dan keempat inilah yang paling sulit diidentifikasi. Karena hal-hal seperti ini tak mungkin dicantumkan dikemasan. Dan tak mungkin pula menanyakan ke penjualnya, mana mengerti mereka? jadilah saya berkesimpulan, bahwa saya harus memegang prinsip kehati-hatian dan meninggalkan perkara yang sifatnya ragu-ragu.hmm, jadi kira-kira makanan apa yang bisa dikonsumsi? sulit yah..hehehe, yah memang sangat sulit. Tapi bukankah dengan memegang teguh prinsip lebih baik ngiler dibandingkan makan dan minum yang haram, insyaAllah, disurga nanti Allah akan menyediakan makanan dan minuman yang jauh lebih enak dan tak mungkin bisa dibayangkan kenikmatannya. Yah dengan mengingat ini, bisa menguat-nguatkan perasaan dimana saat orang lain asyik makan dan minum ria, kita hanya mampu menatap mereka,,hehehe…tapi tenang aja kok, ada sih makanan Jepang yang bisa kita makan seperti sushi, suki, atau makanan yang isinya cuma nasi dan ikan mentah, heheh,,tapi ada masalah satu lagi, bagi kita-kita yang memegang prinsip hemat pangkal kaya (pembenaran atas ketidakmampuan finansial) jangan coba-coba makan makanan ini tiap hari, yakin deh, bakal bangkrut, krut, krutttt…sekali-sekali sih boleh, tapi kalau tiga kali sehari, beasiswa kagak bakal cukup dah, dijamin…

Jadi berdasarkan latar belakang ini, maka jelaslah cara yang paling aman dan bersahabat buat mahasiswa kere kayak saya adalah berbelanja mingguan. Kok mingguan bukan bulanan? yah iyalah, kalau bulanan, gimana cara bawanya? mingguan aja sudah dua kantong penuh (untuk kebutuhan dua orang) plus harus naik bus, jadilah pilihan belanja mingguan yang paling memungkinkan.

Hari sabtu adalah hari yang paling saya tunggu, entahlah mengapa berbelanja menjadi kegiatan yang menyenangkan. Mungkin karena kegiatan inilah satu-satunya hiburan atau jalan-jalan yang bisa saya lakukan selama sepekan yang tiap harinya harus diisi dengan penelitian. Mengapa hari sabtu? Karena pada hari ahad tidak ada bus yang berangkat ke oshakaya (nama supermarket favorit saya)..hehe..

Nama bus yang biasa saya tumpangi yaitu ikiki bus dengan tarif 100 yen per sekali jalan. Tarif yang paling murah dibandingkan dengan bus rute yang lain. Busnya juga terhitung kecil dibandingkan bus yang lain, mungkin panjangnya ¾ bus yang lain. Jadwal ikiki bus berjarak rata-rata sejam tiga puluh menit dengan bus berikutnya. Berbeda dengan daerah seperti Tokyo yang bus nya tiap 10 menit, bus di Toyama agak jarang, sehingga jika anda terlambat 30 detik saja maka anda harus menunggu 1 jam 30 menit untuk bus berikutnya, jadi jangan coba-coba mengambil bus yang memiliki 2 jadwal terakhir karena resikonya bisa ketinggalan bus, sehingga mengharuskan anda berjalan kaki ria untuk pulang ke apartemen. Ngomong-ngomong soal jalan kaki, setidaknya saya sudah merasakan berjalan kaki selama dua jam akibat ketinggalan bus. Kejadian yang membuat semua teman jepang yang mengetahuinya bengong..(entah kagum atau menganggap saya bodoh)..hehehe..

Perjalanan dari guest house (tempat menginap saya sementara) ke oshakaya membutuhkan waktu 45 menit, agak lama dibandingkan menggunakan mobil sendiri. Hal ini disebabkan karena bus harus berkeliling stasiun-stasiun mereka yang tersebar disepanjang jalan menuju oshakaya. Tapi menyenangkanlah, karena busnya bersih dan nyaman plus pemandangan dikanan kiri yang penuh dengan sawah. Sebagai tambahan, setiap ada tanah kosong didaerah ini pastilah dijadikan sawah atau kebun sehingga tak ada lahan yang tidak produktif.

Oh yah yang menarik juga sepanjang pengalaman saya naik bus adalah penumpangnya. Teman-teman penumpang rata-rata adalah opa/oma, anak-anak dan remaja.

Saya jarang menemukan pemuda/pemudi yang naik bus. Bukan karena mereka gengsi, tapi jika umur mereka telah cukup untuk mendapatkan SIM kebanyakan mereka akan memilih membeli mobil. Selain nyaman dan tak terikat waktu, maka mobil juga menjadi andalan pada saat musim salju. Maklumlah pada musim salju, maka ketebalan salju bisa mencapai pinggang orang dewasa, sangat tidak nyaman untuk berjalan kaki. Harga mobil disini juga cukup murah dibandingkan dengan penghasilan orang jepang. Sebagai perbandingan dengan uang 300.000 yen (sekitar 30 juta rupiah) anda sudah bisa mendapatan mobil Honda jazz (maaf bukan maksud promosi) yang masih oke punya (walau second). Uang sebanyak 300.000 yen merupakan rata-rata gaji pegawai menengah ke bawah di jepang (ini untuk orang asli jepang lho, tapi buat orang Indonesia bisa sangat jauh turunnya). Untuk mobil baru yang mantap anda butuh uang 60 jutaan ke atas. Tapi bagi mahasiswa asing khususnya Indonesia dan china, lebih senang membeli mobil yang harga 15-30 jutaan (sesuai budget) walaupun sudah tua dibandingkan mobil-mobil penduduk asli tapi lumayanlah untuk digunakan sebagai sarana transportasi. Maklumlah, karena harga mobil murah bagi mereka, sangat jarang saya dapati ada orang jepang mengendarai mobil tua, mobil mereka pada baru-baru. Dan menariknya merek mobil disini sangat banyak, sehingga jarang orang yang memiliki mobil yang jenis dan bentuknya sama dengan yang lain. Jadi jikalau kita melihat parkiran mobil sama saja halnya jika kita melihat show room mobil.cckckk…

Wah kepanjangan penjelasannya, kembali ke oshakaya. Sebenarnya ada beberapa tempat belanja yang lumayan besar ditempat ini, tapi setelah membandingkan harga maka saya mennyimpulkan oshakaya lah yang paling murah, oshakaya memang selalu dihati,,hehehe. Budget yang saya sediakan untuk belanja per pekan adalah makasimal 5000 yen (sekitar 500 ribu), kok banyak kali yah? dimakassar bisa hidup sebulan tuh,hehe, maklumlah, kehidupan disini dan dimakassar beda..1 yen itu setara dengan 106-114 rupiah, jadi bisa disimpulkan bahwa harga barang jauh lebih mahal dibandingkan dimakassar. Makanya sangat mengherankan jika ada teman yang dengan ‘seenaknya’ mengatakan bahwa harga elektronik (hp, ipod, ipad, laptop plus kamera) disini murah dan minta dibelikan sebagai oleh-oleh, wah bikin gregetan. Yah jelaslah murah, tapi buat orang Jepang bukan buat orang Indonesia. Murah jika pakai uang Jepang dan daya beli orang Jepang (jika dibandingkan penghasilannya) tapi tidak bagi orang Indonesia kayak saya. Yah harganya minimal sama dan bahkan lebih mahal dibandingkan dengan Indonesia jika dirupiahkan, jadi menurutku tidak ada yang murah, lah wong saya kesini dibekali rupiah, ckckck..hehe, bukan pelit loh, tapi jujur..kutak mampu,…

Di oshakaya, isinya mirip-miriplah dengan supermarket-supermarket besar di Indonesia, walaupun yang menarik adalah jenis makanan dan minumannya berupa-rupa dan berbagai jenis. Jenis ikan saja banyak kali, apalagi jenis minumannya, bisa puyeng milihnya (jika punya banyak duit, hehe) tapi berhubung saya mahasiswa dan saya kere, jadi tentunya memilih jenis yang paling murah,heheh. Harga yang paling murah dalam daftar belanjaan saya adalah tauge (30 yen/sekitar 3000 rupiah lebih) dan barang yang paling mahal adalah beras (sekitar 2800 yen/sekitar 280.000 rupiah lebih untuk 5 kg, ini sudah jenis yang paling murah lho), itu sudah sangat murah disini tapi kalau dirupiahkan mahal kan…sekarang percayakan..heheh…tapi ada tips untuk mendapatkan minuman atau sayuran yang murah (bisa setengah harga), yaitu cari saja yang expired date nya tinggal dua hari, dijamin bisa sangat murah, tapi hati-hati yah untuk produk susu bisa mules lho..(pengalamanpribadi.com)..heheh

Yah untuk mengirit juga, saya punya strategi yang tak kalah jitu, karena harga beras mahal dan harga sayuran murah, maka strateginya adalah kalau masak perbanyak sayuran dan kurangi nasinya, selain juga bagus untuk diet dan kesehatan,hehe…

Yang menarik juga disetiap tempat perbelanjaan adalah saat bayar dikasir. Kasir-kasir di Jepang itu cerewetnya minta ampun, hehe, maksudnya adalah setiap barang yang kita beli bakal disebutin harganya satu-satu agar kita bisa mengoreksi walaupun sebenarnya sudah tertulis di mesin kas, rajin banget kan, entah seharian mereka harus menyebut harga berapa banyak barang, beda sekali dengan kasir diindonesia, yang syukur-syukur kalau kita banyak tanya tidak dibentak,hehe

Sepulang dari oshakaya, kembali mengambil ikiki bus, tapi kita harus pandai-pandai mengatur waktu belanja agar tidak menunggu bus kelamaan plus tidak ketinggalan bus. Busnya nyaman karena lowong, jarang kan yang mau naik bus. Bus disediakan pemerintah sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat, karena saya pikir mereka tidak mungkin dapat untung dengan bayaran hanya 100 yen per sekali jalan dan jumlah penumpang yang sangat sedikit (paling banyak hanya sekitar 5 orang per sekali jalan) serta jarak tempuh yang lumayan jauh dibandingkan dengan harga bensin dan gaji supir bus yang cukup mahal. Oh yah, bus disini juga sangat on time, tidak kurang dari 1 menit dari jadwal yang tercantum di stasiun, artinya di kota ini tak mengenal macet, padahal hampir setiap orang punya mobil, system pengaturan transportasi inilah yang coba saya cerna,heheh…

Wah kepanjangan dan kesana kemari, maap yee jika membacanya jadi bosan karena tidak menarik, pamit dulu, pengen masak dulu yah…heheh…

Sugitani, 5-6 september 2011

0 komentar: